Selasa, 28 Oktober 2014

Disaat banyak orang yang mencintaimu.. akan ada beberapa yang membencimu... sebagai orang yang unik.. dibenci itu biasa :D

Sabtu, 12 Januari 2013

RANGKUMAN PTK BAB V

TUGAS RESUME BAB V
Mata Kuliah : Penelitian Tindakan Kelas
        Dosen Pengampu : Drs. Edy Siswanto, M.Pd
                          Oleh
                 KELOMPOK V :
Lelly Triana                     (09141124) 
Linda Kusuma                  (09141128)
Mita Febriana                   (09141143)
Muchlis Hariadi W            (09141144)
Muharram Surya P            (09141147)
Nurika Raket R.                (09141155) Nurul Faida S                    (09141157)

 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI MADIUN
2013

BAB V
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
           Dalam penelitian formal, laporan merupakan persyaratan yang harus dipenuhi, lebih-lebih jika penelitian tersebut dilakukan berdasarkan satu unit tertentu atau pesanan dari satu lembaga seperti skripsi, tesis dan disertasi. Laporan penelitian merupakan satu dokumen untuk mendokumentasikan segala komponen penelitian, mulai dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, metodologi penelitian, analisis data, temuan dan diskusi, serta kesimpulan.
          Dalam PTK , aktor utama adalah guru, laporan penelitian bermanfaat bagi guru dan sekolah. Laporan PTK bisa dibaca guru lain , sehingga hasil atau strategi perbaikan yang diterapkan dapat ditelaah dan dicoba. Disamping itu bisa meningkatkan kemampuan professional, penulisan laporan penelitian juga mempunyai manfaat praktis yaitu sebagai syarat untuk memenuhi angka kredit kenaikan pangkat. Dengan menulis laporan penelitian guru berlatih menjalankan fungsi yang sesungguhnya sebagai seorang peneliti.
        Guru dapat membuat PTK sesuai dengan prosedur. Laporan harus mencakup semua tahap yang dilakukan guru dalam melaksanakan PTK, mulai dari munculnya masalah, menganalisisnya, merumuskan masalah, merencanakan perbaikan, melaksanakan perbaikan, observasi dan interpretasi serta analisis dan refleksi.
        Selanjutnya bila guru sudah puas dalam melaksanakan siklus-siklus, langkah selanjutnya adalah penyusunan laporan kegiatan. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam menulis laporan penelitian harus sistematis, jelas, dan akurat.

Sistematika Laporan PTK
Bagian depan : halaman judul, halaman publikasi, halaman pengesahan, abstraksi, kata pengantar, daftar isi, daftar table (jika ada), daftar gambar (jika ada), dan daftar lampiran (jika ada).

BAB I : PENDAHULUAN
            A.    Latar Belakang Masalah
                    Berisi alasan mengapa tertarik untuk mengkaji masalah tersebut, penyebab terjadinya masalah.
            B.    Identifikasi Masalah
                   Dikemukakan masalah-masalah yang lebih spesifik dan uraikan masalah tersebut.
            C.    Pembatasan Masalah
                   Pilihlah masalah yang paling urgen/diprioritaskan untuk diteliti.
            D.    Rumusan Masalah
                   Rumuskan masalah dengan kalimat tanya yang spesifik, jelas, dan operasional.
            E.    Tujuan Penelitian
                   Kemukakan tujuan yang ingin dicapai.
             F.    Manfaat Hasil Penelitian
                   Kemukakan manfaat hasil penelitian bagi : guru, siswa, sekolah, dll.

BAB II : KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
            A.    Kajian Teori
                   Tulislah teori-teori yang melandasi penelitian.
            B.    Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
                   Kemukakan hasil penelitian terdahulu yang pernah diteliti dengan masalah yang sama.
            C.    Kerangka Berfikir
                   Kemukakan kerangka berpikir yang menjelaskan hubungan logis antara teori dan tindakan yang  dilakukan.
           D.    Hipotesis Tindakan
                   Kemukakan dugaan sementara yang dianggap baik dalam mengatasi masalah.


BAB III : METODE PENELITIAN
         A.    Obyek Tindakan
                 Tuliskan fokus tindakan, jumlah siklus, dan tindakan setiap siklus.
         B.    Setting, Lokasi, dan Subyek Penelitian
                Sebutkan nama sekolah, alamat, kondisi, kelas berapa, jumlah siswa, kondisi dan karakteristik siswa,    serta alasan mengapa memilih kelas tersebut.
         C.    Metode Pengumpulan Data
               Instrumen apa saja, bentuk, kisi-kisinya dan prosedur dalam mengumpulkan data.
         D.    Metode Analisis Data
                Metode apa yang akan digunakan, dan kriteria/pedoman refleksi yang digunakan untuk pengambilan kesimpulan.

BAB IV : HASIL PENELITIAN
              A.    Gambaran Selintas Setting Penelitian
                      Jelaskan apa saja yang terjadi pada saat tahapan tindakan dilakukan.
              B.    Uraian Secara Umum/Keseluruhan
                      Rangkum keseluruhan yang terjadi selama siklus
              C.    Penjelasan Per Siklus
                     Jelaskan secara rinci untuk setiap siklus.
             D.    Pembahasan dan Pengambilan Simpulan
                     Lakukan diskusi untuk lebih mendalami apa yang diperoleh.

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN
             A.    Simpulan
                     Kemukakan poin-poin sesuai hasil pembahasan
             B.    Saran
                    Kemukakan saran untuk pihak tertentu berkaitan dengan masalah.
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran

Selasa, 08 Januari 2013

PPT RESUME PTK BAB V

PROPOSAL PTK


PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


UPAYA PENINGKATAN SUASANA BELAJAR MENYENANGKAN MELALUI OPTIMALISASI JEDA WAKTU DENGAN ICE BREAKING PADA MATA PELAJARAN  MATEMATIKA KELAS 5 DI SDN 02 PANDEAN MADIUN TAHUN AJARAN 2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN

           A.  LATAR BELAKANG MASALAH
            Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.  Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya
            Pelajaran matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. Seperti yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15),”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi, kalau bukan pelajaran yang paling dibenci.” Dari kenyataan tersebut, ditemukan fakta di lapangan bahwa siswa kelas 5 di SDN 02 Pandean terdapat kurangnya hasil belajar matematika yang diakibatkan karena situasi belajar yang kurang menyenangkan khususnya pada mata pelajaran matematika.
   Akar penyebab rendahnya suasana belajar yang menyenangkan pada mata pelajaran Matematika adalah diduga kurang pintarnya guru dalam mencuri perhatian siswa selama proses mendengarkan serta kurang tepatnya guru dalam pemilihan cara dan media dalam membelajarkan siswa. Hal ini menyebabkan pula terhadap rendahnya antusiasme siswa selama KBM khususnya dalam pelajaran matematika.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka sebagai solusi untuk mengatasi hal demikian, maka diperlukan suatu keterampilan mengajar matematika. Diantaranya yaitu keterampilan mengadakan variasi dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan selingan-selingan selama KBM  melalui hal-hal yang menyenangkan dan meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar. Peneliti akan melakukan penelitian mengenai upaya untuk meningkatkan rasa senang siswa selama proses belajar matematika yaitu melalui selingan berupa tebak-tebakan lucu, cerita lucu dan musik.

    B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik  rumusan masalah sebagai berikut :
a.        Bagaimanakah optimalisasi jeda waktu melalui ice breaking dalam mengajar untuk meningkatkan    suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun?         b.         Apakah optimalisasi jeda waktu melalui ice breaking dapat meningkatkan suasana kelas yang  menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun ?

   C.    PEMECAHAN MASALAH
            Untuk memecahkan masalah kurang adanya suasana kelas yang menyenangkan selama kegiatan belajar matematika di kelas khususnya kelas 5 di SDN 02 Pandean Madiun, akan dilakukan penerapan pembelajaran yaitu dengan mengoptimalkan jeda waktu yang ada selama KBM dengan mengadakan sebuah ice breaking atau selingan-selingan ditengah dalam kegiatan pembelajaran di kelas . Selingan-selingan tersebut bisa berupa :
a.       Game yang memuat pelajaran yang sedang dipelajari
b.  Cerita menarik, bisa didapat dari buku dan internet (gaya bercerita sebaiknya dramatis dan intonasi yang pas, pastikan semua murid diam dan tertarik mendengarkannya)
c.    Cerita lucu, (gaya bercerita sebaiknya dramatis dan intonasi yang pas, pastikan semua murid diam dan tertarik mendengarkannya)
d.  Cerita tentang suatu kasus yang terjadi yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajari. (gaya bercerita sebaiknya dramatis dan intonasi yang pas, pastikan semua murid diam dan tertarik mendengarkannya)
e.    Tebak-tebakan lucu, (selingan ini bisa dibuat lebih menarik dengan menyiapkan permen atau wafer sebagai hadiah, guru juga bisa menantang murid untuk memberikan tebakan lucu)
f.       Video singkat (video iklan lucu, video menarik)

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a.       Peneliti akan melakukan kegiatan belajar seperti biasanya mengenai materi yang ada dalam mata pelajaran matematika
b.      Di tengah-tengah waktu jeda selama KBM berlangsung, peneliti secara tiba-tiba mengeluarkan beberapa tebakan-tebakan humor yang bisa memancing perhatian siswa dan melepaskan sejenak beban belajar matematika di kelas.
Contoh Tebakan Humor ;
Guru         : anak-anak ayoo kita main tebak-tebakan dulu yuk, agar kalian tidak           bosan”
Siswa         :“ tebakan apa bu ?“
Guru          :“Gini ada satu bis mengangkut penumpang sebanyak 8 orang. Di                             tengah perjalanan 3 orang penumpang turun, kemudian 2 orang naik                  dan setelah itu turun lagi 1 orang. Tenyata setelah dihitung-hitung
                     penumpangnya tetap sebanyak 8 orang. Mengapa demikian?“
Siswa         :“Kenapa ya, mestinya kan berkurang, kan banyak yang turun. Tidak                         tahu bu.“
Guru          :“kalian menyerah?
Siswa         :“Ya bu, setelah kami hitung-hitung jawabannya kan seharusnya                                 penumpangnya tinggal 6”
Guru          :“Karena bisnya adalah bis tingkat, mereka naik turun dari bagian              atas ke bagian  bawah dan sebaliknya.“
Henry
        :“Uuu...“
c.       Setelah tebakan humor dikeluarkan, siswa akan merasa lebih fresh karena tertawa bersama-sama.
d.      Peneliti mengajak kembali siswa masuk ke dalam materi pelajaran dengan membawa rasa senang yang diperoleh dari selingan tadi.
e.       Siswa akan mendapatkan motivasi baru dan rasa bosan yang tadinya muncul bisa diminimalisir dengan adanya selingan selama jeda waktu selama KBM matematika di kelas.

    D.    TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
a.       Mendeskripsikan optimalisasi jeda waktu melalui penerapan ice breaking dalam mengajar untuk meningkatkan suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun
b.      Mendeskripsikan optimalisasi jeda waktu melalui penerapan ice breaking dalam mengajar dapat meningkatkan suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun

    E.     MANFAAT PENELITIAN
            Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang bersifat teoritik pada khasanah pengetahuan khususnya dalam bidang pembelajaran di SD.
1.         Dilihat dari segi teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran Matematika, adapun manfaatnya adalah :
a)        Memberikan masukan kepada guru di sekolah tempat penelitian ini yang dapat  digunakan sebagai upaya peningkatan proses pembelajaran melalui suasa kelas yang menyenangkan selama KBM berlangsung.
b)        Memberikan sumbangan penelitian dalam bidang pendidikan yang ada kaitannya dengan upaya peningkatan suasana menyenangkan agar dapat meningkatkan pula antusiasme peserta didik dalam proses belajar.

2.         Dilihat dari segi praktis
Hasil-hasil dari penelitian ini juga dapat bermanfaat dari segi praktis, yaitu:
a)        Kegunaan bagi siswa
Dalam proses pelaksanaan penelitian ini para siswa akan lebih aktif, kreatif, merasa senang dan antusias yang tinggi. Dengan suasana yang menyenangkan dan tidak monoton (membosankan) siswa akan mempunyai semangat antusias yang tinggi terhadap pembelajaran serta kemampuannya dalam penguasaan materi akan meningkat.
b)        Kegunaan bagi guru
Kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK. Dan melalui penelitian ini diharapkan guru yang lain agar berusaha semaksimal mungkin menciptakan kelas yang menyenangkan agar tercapai semua kompetensi dan tujuan belajar.
c)        Kegunaan bagi Kepala Sekolah
Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.


BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

           A.    KAJIAN TEORI
1.      Karakteristik Siswa Kelas 5
              Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi dua menjadi kelas rendah dan kelas atas. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi sekolah dasar yang terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, 1992:44). Di Indonesia, kisaran usia sekolah dasar berada di antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas atas sekitar 9 atau 10 tahun sampai 12 tahun.
          Menurut Witherington (1952) yang dikemukakan Makmun (1995:50) bahwa usia 9-12 tahun memiliki ciri perkembangan sikap individualis sebagai tahap lanjut dari usia 6-9 tahun dengan cirri perkembangan sosial yang pesat. Pada tahapan ini anak/siswa berupaya semakin ingin mengenal siapa dirinya dengan membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Jika proses itu tanpa bimbingan, anak akan cenderung sukar beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk itulah sekolah memiliki tanggung jawab untuk menanggulanginya. Sekolah sebagai tempat terjadinya proses menumbuhkembangkan seluruh aspek siswa memiliki tugas dalam memabntu perkembangan anak sekolah. Adapun tugas-tugas perkembangan anak sekolah (Makmun, 1995:68), diantaranya adalah: (a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari, (b) mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai, (c) mencapai kebebasan pribadi, (d) mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.
          Dari tahun ke tahun anak memiliki kecenderungan untuk lebih banyak melanggar peraturan-peraturan (Soesilowindradini, ttn:131) disebabkan oleh:     Makin kurang senangnya kepada suasana belajar di sekolah
Merasa kurang disenangi dalam kelompok sebaya daripada diharapkannya.
Melihat gejala itu, guru sebagai pendidik diharapkan dapat menjadi media untuk memecahkan persoalan tersebut. Melalui aktivitas bermain yang bervariatif dan bimbingan guru, anak merasa betah di sekolah. Dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator, anak bergaul dan mendapat pengakuan dari anggota kelompoknya.
2.      Pembelajaran Matematika SD
          Pembelajaran Matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.
          Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual siswa, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan siswa secara aktif, (5) keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, (6) pengembangan dan pemahaman penalaran matematis.
          Untuk mendukung usaha pembelajaran yang mampu menumbuhkan  kekuatan matematika diperlukan guru yang profesional dan kompeten, yaitu guru yang menguasai pembelajaran matematika, memahami karakteristik belajar siswa dan dapat membuat keputusan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
          Beberapa komponen dalam standar guru matematika yang profesional adalah: (1) penguasaan dalam pembelajaran matematika, (2) penguasaan dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika, (3) penguasaan dalam pengembangan profesional guru matematika, dan (4) penguasaan tentang posisi penopang dan pengembang guru matematika dalam pembelajaran matematika. Guru matematika yang profesional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika.
3.      Suasana Belajar Menyenangkan
a)      Definisi suasana pembelajaran menyenangkan
            Suasana adalah penilaian bagus atau tidaknya suatu tempat dari yang melihat ataupun yang merasakannya. Jika suasananya tidak bagus, otomatis orang yang melihat tidak mau mendekatinya dan sebaliknya, jika suasananya bagus, otomatis orang yang melihat akan melihat tempat tersebut.
            Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.            Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
            Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, menyenangkan berasal dari kata senang, yang berarti, puas, lega, gembira, riang. Sedangkan menyenangkan mempunyai maksud menjadikan senang, gembira, lega, puas. Menyenangkan adalah perasaan seseorang yang sedang senang terhadap apa yang terjadi. Menciptakan Suasana Belajar Yang Menyenangkan adalah Memunculkan Suasana-suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa yang belajar dan tidak membosankan.
            Guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga terbentuk relasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Seorang guru yang ingin menguasai tekhnik mengajar yang menyenangkan (smart teacher) harus memiliki beberapa standar kriteria pemahaman, antara lain memahami konsep, memahami proses perkembangan siswa, paham bahwa masing-masing siswa itu adalah individu yang berbeda serta memahami cara beradaptasikan diri dalam proses pembelajaran.
            Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan seorang guru harus mampu menggunakan berbagai strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan siswa dan mampu memotivasi siswa secara individu dan kelompok untuk menciptakan iklim belajar positif. Selain itu, guru juga harus mampu berkomunikasi secara efektif dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
b)      Aspek Pembelajaran Menyenangkan
Menjadikan pembelajaran yang menyenangkan, akan menjadikan siswa suka dan senang menerima pelajaran yang disampaikan. Ada beberapa aspek menyenangkan dalam pembelajaran.
1)      Bermain
merupakan adalah hal yang paling menyenangkan, dengan bermain dalam kelas siswa menjadi enjoy dalam menerima pelajaran. Salah satu contoh bermain dalam kelas adalah playing card (bermain kartu), bermain tebakan, bermain peran dan lain-lain.
2)      Merangsang dengan hal-hal yang menarik/disukai.
Tugas pendidik dalam kelas adalah menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, selain itu guru juga sebagai pembangkit semangat dalam belajar, dengan memberikan motivasi, dan menyampaikan dengan metode sesuai dengan karakter siswa, sehingga mereka suka dan tertarik untuk belajar. Tidak semua mata pelajaran disukai dengan bakat dan minat, tetapi bisa dengan metode pembelajaran yang tepat.
3)      Penuh pujian
Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan dalam pembelajaran adalah dengan pujian, akan menimbulkan semangat pada diri siswa, mereka termotivasi dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan dan menantang.
4)      Suasana kelas
Suasana kelas pengaruh terhadap pembelajaran, siswa akan bersemangat dengan banyak gambar dan tulisan di dinding untuk memacu semangat belajar (Freeman & Munandar, 2001:200-2001).
4.      Definisi Ice Breaking
a)      Pengertian
Ice Breaking adalah padanan dua kata Inggris yang mengandung makna “memecah es”. Istilah ini sering dipakai dalam training dengan maksud menghilangkan kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Ice Breaking adalah suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang bertujuan agar peserta acara mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya. kegiatan ini biasanya berupa suatu humor, tebakan-tebakan lucu, cerita menarik dan sebagainya.
b)      Tujuan
Tujuan dilaksanakan ice breaking ini adalah :
·      Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setarap) antara sesama peserta dalam forum training dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
·      Menghilangkan sekat-sekat pembatas di antara peserta, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesamaan kesempatan untuk belajar.
·      Terciptanya kondisi yang dinamis di antara peserta didik.
·       Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama peserta untuk melakukan aktivitas selama KBM .
c)      Metode
Ø  Metode Ceramah
Guru melakukan terlebih dahulu ceramah pembuka yang pada hakikatnya menjelaskan tentang beberapa hal, antara lain : pentingnya kesatuan dalam suatu komunitas, persamaan hak di antara sesama peserta, perlakukan yang sama,  tim building, kesadaran potensi, kerjasama antar kelompok dll.
Ø  Metode Studi Kasus
Yaitu memberikan kesempatan kepada peserta untuk ikut andil memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari yang ditawarkan oleh pelatih, tujuannya adalah ;
-       Untuk melihat potensi awal yang dimiliki masing-masing peserta baik dari segi afektif, kognitif maupun psikomotornya.
-      Membiasakan peserta untuk berinteraksi dengan kelompoknya yang baru, dengan bertanya, menanggapi atau mengamati peserta lain.
-      Memberikan pengertian bahwa sejak hari itu mereka akan menjadi sebuah keluarga (sanak famili) sampai kapanpun.
Ø  Metode Sinetik
Yaitu sebuah metode pengembangan sumbang saran, dimana dalam suatu pemecahan masalah dipadukan berbagai pendapat dari berbagai disiplin ilmu sehingga memunculkan solusi yang lebih kreatif terhadap persoalan yang muncul.
Ø  Metode Lorong Penuh Liku
Metode ini dimulai dari membaca beberapa halaman dari buku, kemudian dipaksa untuk membuat keputusan. Berdasarkan keputusan itu peserta diinstruksikan untuk membuka pada suatu halaman tertentu yang telah disusun secara acak. Kemudian diberikan sebuah skenario yang berdasarkan keputusan yang telah dibuat dan keputusan lebih lanjut akan mengirim anda ke halaman muka atau halaman-halaman belakang dari buku, sampai akhirnya peserta keluar dari lorong-lorong tersebut, mungkin setelah melakukan beberapa langkah-langkah yang salah. (untuk penggunaan teknik ini, pelatih harus terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahannya).
Ø  Metode Simulasi dan Permainan
Metode ini merupakan metode yang paling mudah dilakukan, pelatih mempersiapkan beberapa permainan yang bertujuan untuk memecah kebekuan (ice breaking games) peserta. Permainan ini banyak sekali bentuknya, di antaranya adalah ; permainan lempar kokarde, pesan berantai, ziq-zaq dan lain-lain. Tujuan simulasi ini adalah :
-    Terciptanya keakraban di antara peserta.
-    Masing-masing peserta dapat menghafal nama dan beberapa identitas penting peserta lainnya.
-    Tertanamnya anggapan bahwa mereka adalah satu kesatuan (solidaritas) “bila satu sakit, yang lain akan ikut merasakannya”.
     B.     HIPOTESIS TINDAKAN
Suasana belajar matematika pada siswa kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun akan lebih menyenangkan apabila diterapkan optimalisasi jeda waktu melalui ice breaking selama proses pembelajaran berlangsung.


BAB III
METODE PENELITIAN

     A.    METODE PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1.      Lokasi dan Waktu
      Penelitian dilaksanakan di SDN 02 Pandean Madiun. Lokasi tersebut berdekatan dengan kampus IKIP PGRI MADIUN dan berada di tengah kota. Dengan demikian sekolah tersebut memiliki kemudahan dalam mengakses sumber informasi.
      Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu pada tanggal 01 Oktober – 14 Oktober 2012 di SDN 02 Pandean Kota Madiun pada kelas 5A. Dalam perencanaan tindakan tersebut, dirancang RPP, Tes/Tugas, Lembar pengamatan, dan lembar angket. Pelaksanaan tindakan dikerjakan mulai pada tanggal 1 Oktober sampai 14 Oktober 2012. Sebelum melakukan tindakan, peneliti melakukan negosiasi dan kolaborasi dengan guru pamong atau guru bidang studi lain yang juga mengajar di sekolah tersebut.
2.      Subjek Penelitian
      Subjek penelitian adalah siswa kelas V A di SDN 02 Pandean Madiun tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 32 orang. Jumlah siswa pria sebanyak 12 orang, siswa wanita sebanyak 20 orang. Kondisi siswa di sekolah tersebut secara umum memiliki antusiasme dalam belajar. Namun, untuk mata pelajaran khususnya matematika, siswa di kelas itu mengalami masalah yaitu merasa spaneng, tegang, bosan serta suasana kelas yang kurang menyenangkan. 
3.      Rancangan Penelitian
      Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang bertujuan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas.
      Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Taggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi.
4.      Perencanaan Tindakan
      Perencanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan RPP yang akan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran matematika pada materi operasi hitung bilangan. Peneliti  sebagai pengumpul data mempersiapkan daftar cek (checklist) pelaksanaan pembelajaran dan pencapaian indikator  sebagai pedoman observasi, menyusun angket untuk menanyakan pendapat siswa mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan, apakah menyenangkan atau membosankan.
5.      Pelaksanaan Tindakan
a.       SIKLUS I
1)        Tahap Perencanaan (Planning)
a)     Mengidentifikasi masalah
b)    Menganalisis dan merumuskan masalah
c)     Merancang Rencana pelaksanaan pembelajaran
d)    Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
2)        Tahap Melakukan Tindakan (Action)
a)    Melaksanakan langkah-langkah tindakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
b)   Menerapkan pengoptimalisasian jeda waktu menggunakan selingan (berupa tebakan lucu, cerita lucu)
c)    Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
d)   Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
e)    Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan
3)        Tahap Mengamati (observasi)
a)    Melakukan diskusi dengan guru SDN 02 Pandean Madiun dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
b)   Melakukan pengamatan terhadap pengoptimalisasian jeda waktu menggunakan selingan untuk menciptakan suasana menyenangkan  yang dilakukan guru kelas lima
c)    Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran interaktif
d)   Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya
4)        Tahap refleksi (Reflection)
a)    Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
b)   Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat mengoptimalkan waktu jeda selama KBM dikelas menggunakan selingan untuk menciptakan suasa menyenangkan dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
c)    Melakukan refleksi terhadap strategi guru dalam mengoptimalkan waktu jeda selama KBM dikelas menggunakan selingan
d)   Melakukan refleksi terhadap rasa senang siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas.
e)    Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa
b.    SIKLUS II
1)      Tahap Perencanaan (Planning)
a)      Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya
b)      Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
c)      Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I
2)      Tahap Melakukan Tindakan (Action)
a)      Melakukan analisis pemecahan masalah
b)      Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan waktu jeda untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi siswa dan guru
3)      Tahap Mengamati (observasi)
a)      Melakukan pengamatan terhadap mengoptimalkan waktu jeda selama KBM dikelas menggunakan selingan untuk menciptakan suasana menyenangkan
b)      Mencatat perubahan yang terjadi
c)      Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan
4)      Tahap refleksi (Reflection)
a)      Merefleksi suasana apa yang dirasakan siswa selama KBM berlangsung serta merefleksi hasil belajar yang diperoleh siswa dengan selingan yang dilakukan guru dalam jeda waktu selama KBM di kelas
b)      Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian
6.      Pengamatan Tindakan
      Selama tahap pelaksanaan tindakan, peneliti berusaha melakukan pengamatan dan perekaman terhadap aktivitas belajar siswa dan suasana pembelajaran yang terjadi di kelas. Semua aktivitas siswa direkam dengan cara mencatat apa yang dilakukannya, pengalaman apa yang diperolehnya, tanggapan apa yang disampaikannya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
7.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.    Peneliti
2.    Lembar Pengamatan
3.    Catatan Lapangan
8.      Teknik Pengumpulan Data
a.     Teknik observasi
Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
b.    Wawancara
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarannya baik bagi guru maupun bagi siswa.
c.     Documenter
Documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.

DAFTAR PUSTAKA

Mallawi Ibadullah, Siswanto Edy, 2012 : Penelitian Tindakan Kelas. Madiun : IKIP PGRI Madiun

Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Remaja RoMadrasah Ibtidaiyah (MI)akarya. Bandung.



http://hilwa.wordpress.com/category/pendidikan/  diakses pada 25-11-2012