PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
UPAYA PENINGKATAN
SUASANA
BELAJAR MENYENANGKAN MELALUI OPTIMALISASI JEDA WAKTU DENGAN ICE BREAKING PADA
MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS 5 DI SDN
02 PANDEAN MADIUN TAHUN AJARAN 2012/2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
Mengajar merupakan
istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan
karena keeratan hubungan antara keduanya. Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan
perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM)
bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa,
maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan,
sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik
tutur katanya, sopan santunnya, motorik dan gaya hidupnya
Pelajaran matematika masih dianggap
sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit dan pada umumnya siswa mempunyai
anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang tidak disenangi. Seperti
yang dikemukakan Ruseffendi (1984:15),”Matematika (ilmu pasti) bagi anak-anak
pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi, kalau bukan
pelajaran yang paling dibenci.” Dari kenyataan tersebut, ditemukan fakta di
lapangan bahwa siswa kelas 5 di SDN 02 Pandean terdapat kurangnya hasil belajar
matematika yang diakibatkan karena situasi belajar yang kurang menyenangkan
khususnya pada mata pelajaran matematika.
Akar penyebab rendahnya suasana belajar yang
menyenangkan pada mata pelajaran Matematika adalah diduga kurang pintarnya guru
dalam mencuri perhatian siswa selama proses mendengarkan serta kurang tepatnya
guru dalam pemilihan cara dan media dalam membelajarkan siswa. Hal ini
menyebabkan pula terhadap rendahnya antusiasme siswa selama KBM khususnya dalam
pelajaran matematika.
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka sebagai solusi untuk mengatasi hal demikian,
maka diperlukan suatu keterampilan mengajar matematika. Diantaranya yaitu keterampilan
mengadakan variasi dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengadakan selingan-selingan selama KBM
melalui hal-hal yang menyenangkan dan meningkatkan antusiasme siswa
dalam belajar. Peneliti akan melakukan penelitian mengenai upaya untuk
meningkatkan rasa senang siswa selama proses belajar matematika yaitu melalui
selingan berupa tebak-tebakan lucu, cerita lucu dan musik.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah
optimalisasi jeda waktu melalui ice breaking dalam mengajar untuk meningkatkan
suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02
Pandean Madiun? b.
Apakah optimalisasi
jeda waktu melalui ice breaking dapat meningkatkan suasana kelas yang
menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun ?
C.
PEMECAHAN
MASALAH
Untuk memecahkan
masalah kurang adanya suasana kelas yang menyenangkan selama kegiatan belajar
matematika di kelas khususnya kelas 5 di SDN 02 Pandean Madiun, akan dilakukan
penerapan pembelajaran yaitu dengan mengoptimalkan jeda waktu yang ada selama
KBM dengan mengadakan sebuah ice breaking atau selingan-selingan ditengah dalam
kegiatan pembelajaran di kelas . Selingan-selingan tersebut bisa berupa :
a. Game
yang memuat pelajaran yang sedang dipelajari
b. Cerita
menarik, bisa didapat dari buku dan internet (gaya bercerita sebaiknya dramatis
dan intonasi yang pas, pastikan semua murid diam dan tertarik mendengarkannya)
c. Cerita
lucu, (gaya bercerita sebaiknya dramatis dan intonasi yang pas, pastikan semua
murid diam dan tertarik mendengarkannya)
d. Cerita
tentang suatu kasus yang terjadi yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang
dipelajari. (gaya bercerita sebaiknya dramatis dan intonasi yang pas, pastikan
semua murid diam dan tertarik mendengarkannya)
e. Tebak-tebakan
lucu, (selingan ini bisa dibuat lebih menarik dengan menyiapkan permen atau
wafer sebagai hadiah, guru juga bisa menantang murid untuk memberikan tebakan
lucu)
f. Video
singkat (video iklan lucu, video menarik)
Langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut :
a. Peneliti
akan melakukan kegiatan belajar seperti biasanya mengenai materi yang ada dalam
mata pelajaran matematika
b. Di
tengah-tengah waktu jeda selama KBM berlangsung, peneliti secara tiba-tiba
mengeluarkan beberapa tebakan-tebakan humor yang bisa memancing perhatian siswa
dan melepaskan sejenak beban belajar matematika di kelas.
Contoh Tebakan Humor ;
Guru :
“anak-anak ayoo kita
main tebak-tebakan dulu yuk, agar kalian tidak bosan”
Siswa :“ tebakan apa bu ?“
Guru :“Gini ada satu bis mengangkut penumpang sebanyak 8 orang. Di tengah perjalanan 3 orang penumpang turun, kemudian 2 orang naik dan setelah itu turun lagi 1 orang. Tenyata setelah dihitung-hitung
Guru :“Gini ada satu bis mengangkut penumpang sebanyak 8 orang. Di tengah perjalanan 3 orang penumpang turun, kemudian 2 orang naik dan setelah itu turun lagi 1 orang. Tenyata setelah dihitung-hitung
penumpangnya tetap sebanyak 8 orang. Mengapa demikian?“
Siswa :“Kenapa ya, mestinya kan berkurang, kan banyak yang turun. Tidak tahu bu.“
Guru :“kalian menyerah?“
Siswa :“Ya bu, setelah kami hitung-hitung jawabannya kan seharusnya penumpangnya tinggal 6”
Guru :“Karena bisnya adalah bis tingkat, mereka naik turun dari bagian atas ke bagian bawah dan sebaliknya.“
Henry :“Uuu...“
Siswa :“Kenapa ya, mestinya kan berkurang, kan banyak yang turun. Tidak tahu bu.“
Guru :“kalian menyerah?“
Siswa :“Ya bu, setelah kami hitung-hitung jawabannya kan seharusnya penumpangnya tinggal 6”
Guru :“Karena bisnya adalah bis tingkat, mereka naik turun dari bagian atas ke bagian bawah dan sebaliknya.“
Henry :“Uuu...“
c. Setelah
tebakan humor dikeluarkan, siswa akan merasa lebih fresh karena tertawa
bersama-sama.
d. Peneliti
mengajak kembali siswa masuk ke dalam materi pelajaran dengan membawa rasa
senang yang diperoleh dari selingan tadi.
e. Siswa
akan mendapatkan motivasi baru dan rasa bosan yang tadinya muncul bisa
diminimalisir dengan adanya selingan selama jeda waktu selama KBM matematika di
kelas.
D.
TUJUAN
PENELITIAN
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut
:
a. Mendeskripsikan
optimalisasi jeda waktu melalui penerapan ice breaking dalam mengajar untuk
meningkatkan suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5
SDN 02 Pandean Madiun
b. Mendeskripsikan
optimalisasi jeda waktu melalui penerapan ice breaking dalam mengajar dapat
meningkatkan suasana kelas yang menyenangkan dalam pelajaran matematika kelas 5
SDN 02 Pandean Madiun
E.
MANFAAT
PENELITIAN
Hasil penelitian ini
akan memberikan sumbangan yang bersifat teoritik pada khasanah pengetahuan
khususnya dalam bidang pembelajaran di SD.
1.
Dilihat dari segi teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dunia
pendidikan khususnya dalam pembelajaran Matematika, adapun manfaatnya adalah :
a)
Memberikan masukan kepada guru di sekolah tempat penelitian
ini yang dapat digunakan sebagai upaya
peningkatan proses pembelajaran melalui suasa kelas yang menyenangkan selama
KBM berlangsung.
b)
Memberikan sumbangan penelitian dalam bidang pendidikan yang
ada kaitannya dengan upaya peningkatan suasana menyenangkan agar dapat
meningkatkan pula antusiasme peserta didik dalam proses belajar.
2.
Dilihat dari segi praktis
Hasil-hasil dari penelitian ini juga dapat bermanfaat dari
segi praktis, yaitu:
a)
Kegunaan bagi siswa
Dalam proses
pelaksanaan penelitian ini para siswa akan lebih aktif, kreatif, merasa senang
dan antusias yang tinggi. Dengan suasana yang menyenangkan dan tidak monoton
(membosankan) siswa akan mempunyai semangat antusias yang tinggi terhadap
pembelajaran serta kemampuannya dalam penguasaan materi akan meningkat.
b)
Kegunaan bagi guru
Kemampuan guru
mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri
siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna,
menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat
memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas
pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK. Dan melalui
penelitian ini diharapkan guru yang lain agar berusaha semaksimal mungkin
menciptakan kelas yang menyenangkan agar tercapai semua kompetensi dan tujuan
belajar.
c)
Kegunaan bagi Kepala
Sekolah
Bagi kepala sekolah
penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan
proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta
perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.
BAB
II
KAJIAN
TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.
KAJIAN
TEORI
1. Karakteristik
Siswa Kelas 5
Tingkatan
kelas di sekolah dasar dapat dibagi dua menjadi kelas rendah dan kelas atas.
Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas
tinggi sekolah dasar yang terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi,
1992:44). Di Indonesia, kisaran usia sekolah dasar berada di antara 6 atau 7
tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas atas sekitar 9 atau 10
tahun sampai 12 tahun.
Menurut Witherington (1952) yang
dikemukakan Makmun (1995:50) bahwa usia 9-12 tahun memiliki ciri perkembangan
sikap individualis sebagai tahap lanjut dari usia 6-9 tahun dengan cirri
perkembangan sosial yang pesat. Pada tahapan ini anak/siswa berupaya semakin
ingin mengenal siapa dirinya dengan membandingkan dirinya dengan teman
sebayanya. Jika proses itu tanpa bimbingan, anak akan cenderung sukar
beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk itulah sekolah memiliki tanggung jawab
untuk menanggulanginya. Sekolah sebagai tempat terjadinya proses
menumbuhkembangkan seluruh aspek siswa memiliki tugas dalam memabntu perkembangan
anak sekolah. Adapun tugas-tugas perkembangan anak sekolah (Makmun, 1995:68),
diantaranya adalah: (a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan
sehari-hari, (b) mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala,
nilai-nilai, (c) mencapai kebebasan pribadi, (d) mengembangkan sikap-sikap
terhadap kelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial.
Dari tahun ke tahun anak memiliki
kecenderungan untuk lebih banyak melanggar peraturan-peraturan
(Soesilowindradini, ttn:131) disebabkan oleh: Makin kurang senangnya kepada suasana
belajar di sekolah
Merasa
kurang disenangi dalam kelompok sebaya daripada diharapkannya.
Melihat
gejala itu, guru sebagai pendidik diharapkan dapat menjadi media untuk
memecahkan persoalan tersebut. Melalui aktivitas bermain yang bervariatif dan
bimbingan guru, anak merasa betah di sekolah. Dengan peran guru sebagai
mediator dan fasilitator, anak bergaul dan mendapat pengakuan dari anggota
kelompoknya.
2. Pembelajaran
Matematika SD
Pembelajaran Matematika adalah proses
pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang
terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang
dipelajari.
Salah satu komponen yang menentukan
ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi matematika, yang sesuai
dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual
siswa, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan siswa secara aktif, (5)
keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, (6) pengembangan dan pemahaman
penalaran matematis.
Untuk mendukung usaha pembelajaran
yang mampu menumbuhkan kekuatan matematika diperlukan guru yang
profesional dan kompeten, yaitu guru yang menguasai pembelajaran matematika,
memahami karakteristik belajar siswa dan dapat membuat keputusan perencanaan
dan pelaksanaan pembelajaran.
Beberapa komponen dalam standar guru
matematika yang profesional adalah: (1) penguasaan dalam pembelajaran
matematika, (2) penguasaan dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika,
(3) penguasaan dalam pengembangan profesional guru matematika, dan (4)
penguasaan tentang posisi penopang dan pengembang guru matematika dalam
pembelajaran matematika. Guru matematika yang profesional dan kompeten
mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran matematika.
3. Suasana
Belajar Menyenangkan
a) Definisi
suasana pembelajaran menyenangkan
Suasana adalah penilaian bagus atau tidaknya suatu tempat dari yang
melihat ataupun yang merasakannya. Jika suasananya tidak bagus, otomatis orang
yang melihat tidak mau mendekatinya dan sebaliknya, jika suasananya bagus,
otomatis orang yang melihat akan melihat tempat tersebut.
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku
atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau
latihan yang diperkuat.
Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur,
yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur.
Menurut
kamus Besar Bahasa Indonesia, menyenangkan berasal dari kata senang, yang
berarti, puas, lega, gembira, riang. Sedangkan menyenangkan mempunyai maksud
menjadikan senang, gembira, lega, puas. Menyenangkan adalah perasaan
seseorang yang sedang senang terhadap apa yang terjadi. Menciptakan Suasana Belajar Yang Menyenangkan adalah Memunculkan
Suasana-suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa yang belajar dan tidak
membosankan.
Guru harus bisa menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan sehingga terbentuk relasi antara guru dan
siswa dalam proses pembelajaran. Seorang guru yang ingin menguasai tekhnik
mengajar yang menyenangkan (smart teacher) harus memiliki beberapa standar kriteria
pemahaman, antara lain memahami konsep, memahami proses perkembangan siswa,
paham bahwa masing-masing siswa itu adalah individu yang berbeda serta memahami
cara beradaptasikan diri dalam proses pembelajaran.
Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan seorang guru harus
mampu menggunakan berbagai strategi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan
siswa dan mampu memotivasi siswa secara individu dan kelompok untuk menciptakan
iklim belajar positif. Selain itu, guru juga harus mampu berkomunikasi secara
efektif dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menciptakan suasana
kelas yang menyenangkan.
b) Aspek Pembelajaran Menyenangkan
Menjadikan pembelajaran
yang menyenangkan, akan menjadikan siswa suka dan senang menerima pelajaran
yang disampaikan. Ada beberapa aspek menyenangkan dalam pembelajaran.
1) Bermain
merupakan adalah hal yang paling menyenangkan, dengan bermain dalam kelas siswa menjadi enjoy dalam menerima pelajaran. Salah satu contoh bermain dalam kelas adalah playing card (bermain kartu), bermain tebakan, bermain peran dan lain-lain.
merupakan adalah hal yang paling menyenangkan, dengan bermain dalam kelas siswa menjadi enjoy dalam menerima pelajaran. Salah satu contoh bermain dalam kelas adalah playing card (bermain kartu), bermain tebakan, bermain peran dan lain-lain.
2) Merangsang
dengan hal-hal yang menarik/disukai.
Tugas pendidik dalam kelas adalah menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, selain itu guru juga sebagai pembangkit semangat dalam belajar, dengan memberikan motivasi, dan menyampaikan dengan metode sesuai dengan karakter siswa, sehingga mereka suka dan tertarik untuk belajar. Tidak semua mata pelajaran disukai dengan bakat dan minat, tetapi bisa dengan metode pembelajaran yang tepat.
Tugas pendidik dalam kelas adalah menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, selain itu guru juga sebagai pembangkit semangat dalam belajar, dengan memberikan motivasi, dan menyampaikan dengan metode sesuai dengan karakter siswa, sehingga mereka suka dan tertarik untuk belajar. Tidak semua mata pelajaran disukai dengan bakat dan minat, tetapi bisa dengan metode pembelajaran yang tepat.
3) Penuh
pujian
Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan dalam pembelajaran adalah dengan pujian, akan menimbulkan semangat pada diri siswa, mereka termotivasi dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan dan menantang.
Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan dalam pembelajaran adalah dengan pujian, akan menimbulkan semangat pada diri siswa, mereka termotivasi dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan dan menantang.
4) Suasana
kelas
Suasana kelas pengaruh terhadap pembelajaran, siswa akan bersemangat dengan banyak gambar dan tulisan di dinding untuk memacu semangat belajar (Freeman & Munandar, 2001:200-2001).
Suasana kelas pengaruh terhadap pembelajaran, siswa akan bersemangat dengan banyak gambar dan tulisan di dinding untuk memacu semangat belajar (Freeman & Munandar, 2001:200-2001).
4. Definisi
Ice Breaking
a) Pengertian
Ice
Breaking adalah padanan dua kata Inggris yang mengandung makna “memecah es”.
Istilah ini sering dipakai dalam training dengan maksud menghilangkan
kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka saling mengenal,
mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang
lainnya. Ice Breaking adalah
suatu aktivitas kecil dalam suatu acara yang bertujuan agar peserta acara
mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya. kegiatan ini
biasanya berupa suatu humor, tebakan-tebakan lucu, cerita menarik dan
sebagainya.
b) Tujuan
Tujuan
dilaksanakan ice breaking ini adalah :
·
Terciptanya kondisi-kondisi
yang equal (setarap) antara sesama peserta dalam forum
training dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
·
Menghilangkan sekat-sekat pembatas
di antara peserta, sehingga tidak ada lagi anggapan si anu pintar, si anu
bodoh, si anu kaya, si anu bos dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesamaan
kesempatan untuk belajar.
·
Terciptanya kondisi yang
dinamis di antara peserta didik.
·
Menimbulkan kegairahan (motivasi) antara
sesama peserta untuk melakukan aktivitas selama KBM .
c) Metode
Ø Metode Ceramah
Guru melakukan terlebih dahulu ceramah pembuka yang pada
hakikatnya menjelaskan tentang beberapa hal, antara lain : pentingnya kesatuan
dalam suatu komunitas, persamaan hak di antara sesama peserta, perlakukan yang
sama, tim building, kesadaran potensi, kerjasama antar kelompok dll.
Ø Metode Studi Kasus
Yaitu memberikan kesempatan kepada peserta untuk ikut
andil memecahkan persoalan-persoalan praktis sehari-hari yang ditawarkan oleh
pelatih, tujuannya adalah ;
- Untuk
melihat potensi awal yang dimiliki masing-masing peserta baik dari segi
afektif, kognitif maupun psikomotornya.
- Membiasakan
peserta untuk berinteraksi dengan kelompoknya yang baru, dengan bertanya,
menanggapi atau mengamati peserta lain.
- Memberikan
pengertian bahwa sejak hari itu mereka akan menjadi sebuah keluarga (sanak famili)
sampai kapanpun.
Ø
Metode Sinetik
Yaitu sebuah metode pengembangan sumbang saran,
dimana dalam suatu pemecahan masalah dipadukan berbagai pendapat dari berbagai
disiplin ilmu sehingga memunculkan solusi yang lebih kreatif terhadap persoalan
yang muncul.
Ø
Metode Lorong Penuh Liku
Metode ini dimulai dari membaca beberapa halaman
dari buku, kemudian dipaksa untuk membuat keputusan. Berdasarkan keputusan itu
peserta diinstruksikan untuk membuka pada suatu halaman tertentu yang telah
disusun secara acak. Kemudian diberikan sebuah skenario yang berdasarkan
keputusan yang telah dibuat dan keputusan lebih lanjut akan mengirim anda ke
halaman muka atau halaman-halaman belakang dari buku, sampai akhirnya peserta
keluar dari lorong-lorong tersebut, mungkin setelah melakukan beberapa
langkah-langkah yang salah. (untuk penggunaan teknik ini, pelatih harus
terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahannya).
Ø
Metode Simulasi dan Permainan
Metode ini merupakan metode yang paling mudah
dilakukan, pelatih mempersiapkan beberapa permainan yang bertujuan untuk
memecah kebekuan (ice breaking games) peserta. Permainan ini banyak
sekali bentuknya, di antaranya adalah ; permainan lempar kokarde, pesan
berantai, ziq-zaq dan lain-lain. Tujuan simulasi ini adalah :
- Terciptanya
keakraban di antara peserta.
- Masing-masing
peserta dapat menghafal nama dan beberapa identitas penting peserta lainnya.
- Tertanamnya anggapan
bahwa mereka adalah satu kesatuan (solidaritas) “bila satu sakit, yang lain
akan ikut merasakannya”.
B.
HIPOTESIS
TINDAKAN
Suasana
belajar matematika pada siswa kelas 5 SDN 02 Pandean Madiun akan lebih
menyenangkan apabila diterapkan optimalisasi jeda waktu melalui ice breaking
selama proses pembelajaran berlangsung.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
METODE
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1.
Lokasi
dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di SDN 02 Pandean
Madiun. Lokasi tersebut
berdekatan dengan kampus IKIP PGRI MADIUN dan berada di tengah kota. Dengan demikian
sekolah tersebut memiliki kemudahan dalam mengakses sumber informasi.
Pelaksanaan penelitian
ini dilaksanakan selama 2 minggu pada tanggal 01 Oktober – 14 Oktober 2012 di
SDN 02 Pandean Kota Madiun pada kelas 5A.
Dalam perencanaan
tindakan tersebut, dirancang RPP, Tes/Tugas, Lembar pengamatan,
dan lembar angket. Pelaksanaan
tindakan dikerjakan mulai pada tanggal 1 Oktober sampai 14 Oktober 2012. Sebelum melakukan tindakan, peneliti melakukan
negosiasi dan kolaborasi dengan guru pamong atau guru bidang studi lain yang juga mengajar di sekolah tersebut.
2.
Subjek
Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas V
A di SDN 02 Pandean Madiun tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah
siswa 32 orang. Jumlah
siswa pria sebanyak 12 orang, siswa wanita sebanyak 20 orang. Kondisi siswa di sekolah tersebut
secara umum memiliki antusiasme dalam belajar. Namun, untuk mata
pelajaran khususnya matematika, siswa di kelas itu mengalami masalah yaitu
merasa spaneng, tegang, bosan serta suasana kelas yang kurang menyenangkan.
3.
Rancangan
Penelitian
Penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan
Kelas adalah penelitian yang bertujuan meningkatkan kualitas proses dan hasil
pembelajaran di kelas.
Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang
dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip
Kemmis S, MC Taggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning),
tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau
evaluasi.
4.
Perencanaan
Tindakan
Perencanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan RPP yang akan
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran matematika
pada materi operasi hitung bilangan. Peneliti sebagai pengumpul data mempersiapkan daftar cek (checklist)
pelaksanaan pembelajaran dan pencapaian indikator sebagai pedoman observasi, menyusun angket
untuk menanyakan pendapat siswa mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan, apakah
menyenangkan atau membosankan.
5.
Pelaksanaan
Tindakan
a.
SIKLUS I
1)
Tahap Perencanaan
(Planning)
a) Mengidentifikasi
masalah
b) Menganalisis
dan merumuskan masalah
c) Merancang
Rencana pelaksanaan pembelajaran
d) Menyiapkan
instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
2)
Tahap Melakukan Tindakan
(Action)
a) Melaksanakan
langkah-langkah tindakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
b) Menerapkan
pengoptimalisasian jeda waktu menggunakan selingan (berupa tebakan lucu, cerita
lucu)
c) Melakukan
pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
d) Memperhatikan
alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
e) Mengantisipasi
dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan
3)
Tahap Mengamati
(observasi)
a) Melakukan
diskusi dengan guru SDN 02 Pandean Madiun dan kepala Sekolah untuk rencana
observasi
b) Melakukan
pengamatan terhadap pengoptimalisasian jeda waktu menggunakan selingan untuk
menciptakan suasana menyenangkan yang
dilakukan guru kelas lima
c) Mencatat
setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran
interaktif
d) Melakukan
diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan
yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran
berikutnya
4)
Tahap refleksi
(Reflection)
a) Menganalisis
temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
b) Menganalisis
kelemahan dan keberhasilan guru saat mengoptimalkan waktu jeda selama KBM
dikelas menggunakan selingan untuk menciptakan suasa menyenangkan dan
mempertimbangkan langkah selanjutnya
c) Melakukan
refleksi terhadap strategi guru dalam mengoptimalkan waktu jeda selama KBM
dikelas menggunakan selingan
d) Melakukan
refleksi terhadap rasa senang siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas.
e) Melakukan
refleksi terhadap hasil belajar siswa
b. SIKLUS
II
1) Tahap
Perencanaan (Planning)
a) Hasil
refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk diterapkan
pada pembelajaran berikutnya
b) Mendata
masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran
c) Merancang
perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I
2) Tahap
Melakukan Tindakan (Action)
a) Melakukan
analisis pemecahan masalah
b) Melaksanakan
tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan waktu jeda untuk menciptakan suasana
kelas yang menyenangkan bagi siswa dan guru
3) Tahap
Mengamati (observasi)
a) Melakukan
pengamatan terhadap mengoptimalkan waktu jeda selama KBM dikelas menggunakan
selingan untuk menciptakan suasana menyenangkan
b) Mencatat
perubahan yang terjadi
c) Melakukan
diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan memberikan balikan
4) Tahap
refleksi (Reflection)
a) Merefleksi
suasana apa yang dirasakan siswa selama KBM berlangsung serta merefleksi hasil
belajar yang diperoleh siswa dengan selingan yang dilakukan guru dalam jeda
waktu selama KBM di kelas
b) Menganalisis
temuan dan hasil akhir penelitian
6.
Pengamatan
Tindakan
Selama tahap
pelaksanaan tindakan, peneliti berusaha melakukan pengamatan dan perekaman
terhadap aktivitas belajar siswa dan suasana pembelajaran yang terjadi di
kelas. Semua aktivitas siswa direkam dengan cara mencatat apa yang
dilakukannya, pengalaman apa yang diperolehnya, tanggapan apa yang
disampaikannya berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung.
7.
Instrumen
Penelitian
Instrumen penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Peneliti
2. Lembar
Pengamatan
3. Catatan
Lapangan
8.
Teknik
Pengumpulan Data
a. Teknik
observasi
Teknik observasi
digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang
berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas.
Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau
terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart,
1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system
pembelajaran di sekolah.
b.
Wawancara
Teknik wawancara
mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam
proses pembelajarannya baik bagi guru maupun bagi siswa.
c. Documenter
Documenter digunakan
untuk menggali data yang bersifat dokumen.
DAFTAR
PUSTAKA
Mallawi
Ibadullah, Siswanto Edy, 2012 : Penelitian Tindakan Kelas. Madiun : IKIP PGRI
Madiun
Mulyasa,
E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Remaja RoMadrasah Ibtidaiyah (MI)akarya. Bandung.
http://gurukreatif.wordpress.com/2012/01/12/12-cara-menjadi-guru-yang-baik/
diakses pada 25-11-2012
http://hilwa.wordpress.com/category/pendidikan/
diakses pada 25-11-2012
tolong print out..dikumpulkan saat UAS..
BalasHapus